Penyebab Kemampuan Bahasa Inggris Kita Tidak Meningkat. Yuk Cek Solusinya Di Sini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Penyebab Kemampuan Bahasa Inggris Kita Tidak Meningkat. Yuk Cek Solusinya Di Sini

Penyebab Kemampuan Bahasa Inggris Kita Tidak Meningkat. Yuk Cek Solusinya Di Sini – Hello English learners! Pernah tidak learners merasa pemahaman dalam bahasa Inggris-nya masih seperti itu-itu saja? Padahal kita sudah belajar dengan keras, sudah sering juga melakukan drill grammar, menghafal tenses sampai benar-benar hafal dan semacamnya. Tapi, kenapa kita kalau misalnya ada di lingkungan asli atau kita nonton suatu acara. Kita tetap juga merasa progress kita masih seperti itu-itu saja.

Kalau kita melihat dari beberapa pengalaman oranga-orang, ada yang sudah belajar bahasa Jepang selama 1 tahun tetapi rasanya hanya bisa percakapan yang dasar-dasar saja. Sedangkan waktu ada yang belajar bahasa Korea, di tahun pertama sudah bisa menyusun pendapat sendiri dan cukup percaya diri untuk mengobrol. Setelah melakukan beberapa kali analisis dan uji coba selama beberapa tahun terakhir, menurutku ini beberapa penyebab kenapa progres belajar bahasa kita nggak maju-maju.

Berikut pembahasan dan solusinya lebih dalam. Let’s get started!

1. Kurang input

Sebenarnya, untuk kita bisa mengakuisisi suatu bahasa, kita nggak perlu latihan grammar. Kita tidak perlu menghafal tenses dan semacamnya. Yang  perlu kita lakukan adalah perbanyak input yang kita pahami atau yang sedikit di atas dari level kita saat ini. Jadi, pada dasarnya kekurangan input itu adalah artinya kita kekurangan mendengarkan bahasa tersebut. Kita kekurangan menonton film yang berbahasa yang ingin kita pelajari. Kita kurang mendengarkan lagu dari bahasa yang kita pelajari, kita kurang mendengarkan orang bercakap-cakap dengan bahasa itu. 

Dan salah satu penyebab dari hal ini adalah  mungkin karena kita belum punya ketertarikan natural terhadap bahasa tersebut atau mungkin bisa jadi kita merasa terpaksa belajar bahasanya karena diwajibkan oleh sekolah atau orang tua. Ini aku rasakan banget waktu aku belajar bahasa Korea dan belajar bahasa Jepang di mana waktu itu aku jauh lebih tertarik dengan menonton drama Korea dan lagu-lagu Korea daripada aku mendengarkan lagu-lagu Jepang atau nonton anime atau drama Jepang dan semacamnya. 

Jadi, untuk bahasa Jepang ku ini sama satu tahun itu programnya masih tetap sama tidak ada yang berubah, aku hanya bisa mengulang kalimat-kalimat yang sama hanya tahu grammar dan kata-kata yang sama sampai pada akhirnya aku mulai coba memaksakan diriku untuk nonton konten-konten Jepang untuk perbanyak input dalam bahasa Jepang, yang mana pada awalnya aku merasa terpaksa tapi pada akhirnya aku ketemu flow-nya, dan akhirnya aku menemukan konten yang kusuka. Inilah yang terpenting ketika kita belajar bahasa kita harus engage dengan bahasa itu di area yang kita sukai, kita butuh terlibat pada percakapan yang benar-benar ingin kita dengar. Dari situ kita akan belajar bahasa, dan kita akan mengakuisisi bahasa yang kita inginkan. 

Hal ini seperti yang dibahas oleh Stephen Krashen melalui teorinya yang terkenal di komunitas polyglot dan pembelajar bahasa, yaitu teori comprehensible input. Kita itu belajar bahasa bukan dari hafal 16 tenses, bukan dari latihan grammar. Tapi, kita belajar bahasa dari mencoba memahami dan benar-benar engage secara natural pada percakapan-percakapan dan bentuk komunikasi lainnya dari bahasa yang ingin kita pelajari. 

Dan langkah yang perlu kita lakukan kalau merasa bahasa kita kemampuan yang masih seperti itu-itu saja adalah perbanyak input bikin otak kita familiar dengan bahasa tersebut  dengan bunyi-bunyinya membuat otak kita jadi pandai untuk melihat kira-kira pola kalimat itu seperti apa di bahasa ini, partikel-partikel grammar yang ada seperti apa saja. Dan kuncinya adalah kita harus buat belajar bahasa itu terasa tidak seperti belajar sama sekali, dengan kita menonton netflix atau nonton TV saja bisa jadi hal yang  produktif dan ini mungkin konsep yang agak sulit diterima oleh orang yang baru belajar bahasa tapi sebenarnya kita tidak perlu setiap belajar bahasa itu ada buku yang menemani kita di samping. Terkadang kita hanya dengan menonton sambil kita mencoba memahami sebaik-baiknya, sambil kita benar-benar mencoba secara natural, engage dengan percakapan yang ada di dalamnya disitulah kita belajar tanpa merasa sedang belajar sama sekali.

2. Kurang output

Kemudian yang kedua kenapa kalau misalnya kita ngomong itu merasa masih seperti itu-itu saja. Kita merasa bisa paham film dengan bagus, kita bisa menonton acara TV tanpa subtitle tapi sedangkan kita ngomong dengan orang bule atau sama orang lain dengan bahasa Inggris, kita jadi seperti ragu-ragu ngomongnya, menurutku disini setidaknya ada dua kemungkinan.

Pertama karena kita masih kurang output, input itu membantu kita untuk mengakuisisi suatu bahasa. Tapi, kalau berbicara tentang output itu berbeda lagi, kita harus melatih bagaimana kita menyusun kalimat tersebut. Kita juga harus membuat lidah kita familiar dengan fonetik atau bunyi-bunyi yang ada dalam bahasanya. Karena sekarang wajah, mulut dan lidah kita ini hanya terbiasa untuk untuk menyebutkan bunyi-bunyi yang ada di bahasa ibu kita. Jadinya, memang kadang kalau misalnya kita mencoba belajar bahasa baru seperti bahasa Perancis, pelafalannya. Jadi kurang jelas atau kadang kita jadi ragu-ragu ngomongnya. Dan ini adalah hal yang sangat wajar. Dan itu memang harus butuh pembiasaan dan ini juga pertanda kalau kita sedang berprogress dalam bahasa tersebut. Namun, yang terjadi pada banyak orang adalah mereka kehilangan rasa percaya diri. Mereka merasa tidak begitu kompeten ketika berbicara di bahasa yang sedang mereka pelajari sehingga kembali lagi ke bahasa ibunya. 

Baca Juga: Idiom Vs Slang, Apa Bedanya Sih?

Jadi, di sini kenapa kita outputnya belum lancar. Karena memang lidahnya belum terbiasa atau bisa juga karena kekurangan percaya diri. Oleh karena itu, kita harus lihat di sini dan jujur sama diri sendiri kira-kira masalah kita itu ada di mana, apakah karena lidah atau mulut dan wajah kita belum terbiasa? Kalau misalnya begitu, kita mencoba latihan lagi dan latihan lagi di ulang-ulang terus menerus atau yang kedua dikarenakan kekurangan percaya diri mungkin di itu ada isu-isu internal lagi dari diri kita yang harus diselesaikan terlebih dahulu, terlepas dari kegiatan belajar bahasa itu sendiri.

3. Ekspektasi tidak realistis

Kemudian, yang ketiga adalah kenapa bahasa kita masih tetap seperti itu-itu saja. Mungkin yang terjadi adalah kita punya ekspektasi yang tidak realistis. Karena ketika kita menonton orang di YouTube. Dia bisa lancar bahasa baru hanya dengan sebulan atau 2 bulan. Jadi, karena kita melihat video-video ini kita merasa bahwa diri kita juga harus belajar secepat mereka. Padahal banyak sekali video-video ini yang belum tentu akurat dan banyak juga orang membuat video, misalnya dia bisa ngomong 7 bahasa asing atau 11 bahasa asing, padahal sebenarnya mereka hanya berbicara hal-hal yang basic saja, seperti perkenalan yang notabene mereka menghafalnya, dan itu bukan kemampuan bahasa sebenarnya. 

Kalau misalnya kita melihat video\artikel ini tentang betapa cepatnya mereka belajar bahasa, itu tidak perlu insecure dan semacamnya. Karena kita belajar bahasa itu garis start-nya berbeda-beda dan tujuan akhir kita atau apa yang ingin kita lakukan dari bahasa itu juga berbeda. Ini adalah hanya sebuah alat atau sebuah instrumen dan itu tergantung masing-masing orang sendiri memakai instrumennya seperti apa. Tidak bisa disamakan untuk semuanya. Jadi kalau misalnya kita sudah punya ekspektasi yang tidak realistis. Contohnya kita baru 2 minggu belajar lalu merasa aku kok tidak ada progressnya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita lagi berprogress hanya karena kita tidak sabar. Kita tidak sadar ada progress. Jadi, nanti kita yang ada hanya menyerah. Padahal kalau kita lanjutin momentum belajar kita tadi sampai dari 2 minggu, jadi 2 bulan, jadi 2 tahun, kamu akan mendapatkan hasil yang luar biasa. 

4. Kebanyakan mendengarkan tips

Kemudian kemungkinan keempat yaitu adalah kita kebanyakan nonton/membaca tips. Sebenarnya tidak ada salahnya juga dari nonton/membaca tips. Tapi terkadang kita nonton video atau membaca artikel tentang tips dengan prakteknya itu tidak seimbang. Kita nonton sekian jam video atau membaca banyak artikel tips tetapi hanya praktek selama 12 menit. Katakan kita sedang mendorong sebuah gerobak. Dan anggaplah nonton video tips itu seperti ancang-ancangnya. Supaya nanti pas kita dorong, dorongannya itu akan mulus. Kalau misalnya tujuan kita adalah untuk mendorong gerobak atau untuk memakai bahasa tersebut, maka itu menjadi ancang-ancang saja. Tetapi yang harus kita fokuskan sebenarnya adalah untuk mendorong gerobaknya tadi untuk praktek dengan bahasanya. 

Demikianlah learners beberapa kemungkinan kenapa kita tidak bisa maju dalam belajar bahasa Inggris atau belajar bahasa asing lainnya. Sebenarnya masih banyak lagi kesalahan-kesalahan dalam berbahasa asing, tetapi kalau kamu ingin belajar bahasa Inggris tidak ada kesalahan dan tidak ingin menyia-nyiakan waktu kamu, kamu bisa mengikuti Program Kursus di Fluentz. Kalau kalian ingin lebih terfokus untuk terus meningkatkan English skill-mu, akan lebih baik lagi jika kalian memiliki tutor yang nantinya akan membimbing kamu dalam mencapai goal kamu. Untuk bisa mendapatkan tutor yang nantinya akan menjadi language partner kamu, kamu bisa mengikuti kursus bahasa Inggris online terbaik. Cari tahu dan teliti lembaga kursus yang memakai metode terbaik, metode yang terfokus terhadap comprehensible input. 

Semua kriteria ini bisa kalian dapatkan dari lembaga pelatihan bahasa asing Fluentz yang berkantor di Jakarta Pusat. Lembaga ini juga melayani kelas offline dan online di seluruh Indonesia. Fluentz menerapkan metode NFP (Natural, Fast and Powerful), metode yang dikembangkan dari teori language acquisition-nya Stephen Krashen. Beliau merupakan seorang pakar Bahasa yang buku-bukunya menjadi acuan dalam studi-studi tentang bahasa. Beliau menyatakan dalam mempelajari bahasa baru harus fokus pada comprehensible input yaitu fokus pada pertukaran meaningful messages, practice and repetition. Dan itu menjadi satu-satunya cara yang mudah dan praktis untuk menjadi fasih berbahasa.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai program kursus Fluentz, kamu bisa menghubungi CS kami di nomor +62 813-7645-4665.

Fluentz perfect for online courses and other institutes. It’s a complete solution with lms features and functionalities.

Contact Us

STC Senayan Lantai 2 Ruang 89 Jalan Asia Afrika Pintu IX Gelora Senayan, Jakarta Pusat 10270.

0813-9176-8718

 

Chat Sekarang
Hari ini sedang ada Promo bonus sampai 5 sesi! Yuk, langsung chat Mimintz 😎